Film terkenal di budaya populer. Dunia fiksi tersebut juga

Film yang berjudul “Star Wars” mungkin sudah tidak asing bagi pemuda Indonesia, di tambah lagi dengan adanya episode baru “The Last Jedi” yang baru saja eksis di bioskop-bioskop saat ini. Star Wars merupakan seri film epik, fiksi ilmiah, opera antariksa Amerika Serikat yang disutradarai oleh George Lucas. Waralaba ini menggambarkan sebuah galaksi yang sangat, sangat jauh pada masa yang sangat lampau, dan juga pada umumnya menggambarkan Jedi sebagai gambaran kebajikan, yang bertentangan dengan Sith, yang merupakan gambaran kejahatan. Senjata mereka, lightsaber, terkenal di budaya populer. Dunia fiksi tersebut juga memiliki beragam tema, termasuk tema-tema yang dipengaruhi oleh bidang filsafat dan agama. Sejak film pertamanya yang berjudul “A New Hope” pada tahun 1977, film tersebut mendapat antusiasme yang cukup besar oleh kalangan muda dunia pada saat itu. Di ikuti oleh dua sekuel, yang di liris masing-masing dalam selang waktu tiga tahun. Enam belas tahun setelah film berakhir dari trilogi asli di rilis, film pertama dari trilogi prekuel di rilis. Tiga film prekuel juga di rilis dengan selang waktu tiga tahun, yang mana film terakhir dari trilogi prekuel di rilis pada 19 Mei 2005. Saat ini, banyak perdebatan yang terjadi terkait dengan ideologi feminisme dari film yang baru-baru ini eksis di bioskop- bioskop tanah air yang berjudul “The Last Jedi”. Perdebatan tersebut muncul karena pada film tersebut banyak tokoh-tokoh pria yang digambarkan secara negatif dan banyak tokoh-tokoh wanita yang di gambarkan positif. Pada 20 Desember 2017, Rosie Fletcher, menulis sebuah artikel yang di publikasikan oleh Digitalspy.com yang berjudul “How Star Wars: The Last Jedi is the first truly feminist Star Wars film”1.Perdebatan tersebut berlangsung cukup intens. Sebagian orang percaya bahwa film tersebut hanya merupakan fiksi dan tidak ada pesan terselubung di dalamnya. Namun, sebagian orang juga percaya bahwa selain film tersebut mengandung unsur feminisme, film tersebut juga tidak seperti trilogi yang asli yang hanya bertemakan perang antara yang baik dan yang buruk. Pada masyarakat Indonesia, seperti yang kita tahu Indonesia menduduki peringkat ke empat di dunia untuk negara dengan populasi terbanyak. Dalam sejarahnya, masyarakat sudah dikenalkan dengan emansipasi wanita yang dipelopori oleh R.A Kartini Djojo Adhiningrat atau dikenal dengan panggilan “Ibu Kita Kartini”. Dengan kondisi seperti itu, banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang terkait dengan feminisme pada film fiksi yang masuk dunia Sinema Indonesia. Key Questions: 1.     Apa itu feminisme?2.     Bagaimana awal terciptanya gerakan feminisme?3.     Mengapa film Star Wars; The Last Jedi dianggap sebagai film feminisme?4.     Apa dampaknya untuk Indonesia?        PEMBAHASAN Analisis Masalahperempuan berhak mendapatkan edukasi yang sepadan dengan posisinya dalam Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria2. Gerakan feminisme muncul karena pada sebelum abad 18, tidak ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal termasuk kesetaraan dalam politik, edukasi dan bahkan kehidupan sosial. Tidak setarakan gender bahkan masih di rasakan saat ini. Tokoh- tokoh feminisme dunia antara lain; Mary Wollstonecraft, Betty Friedan, Raden Adjeng Kartini, Malala Yousafzai. Di Eropa, masih banyak perusahaan yang membedakan gaji berdasarkan gender dari para pegawainya. Pada tahun 1792, buku berjudul A Vindication of The Rights of Woman yang ditulis oleh Mary Wollstonecraft menjadi buku pertama tentang filosofi dari kesetaraan gender. Dalam buku tersebut, Mary Wollstonecraft merespon pada teori edukasi dan politik pada abad ke-18 yang mana tidak percaya bahwa perempuan itu berhak mendapatkan edukasi. Dalam buku itu dia berargumen bahwa kehidupan sosial dan mengklaim bahwa perempuan sangat penting bagi bangsa karena perempuan merupakan interaksi pertama saat anak lahir dan mempunyai hubungan batin yang kuat pada anak tersebut. Pada abad tersebut banyak yang beranggapan bahwa perempuan merupakan ornamen untuk masyarakat atau properti untuk di perdagangkan dalam pernikahan3. Wollstonecraft berpendapat bahwa perempuan juga merupakan manusia yang berhak mendapatkan kehidupan yang sama dengan laki-laki pada umumnya. Keinginan Mary Wollstonecraft dalam penulisan buku tersebut setelah dia membaca laporan dari Charles Maurice de Talleyrand Perigord pada revolusi Prancis yang menyebutkan bahwa revolusi tersebut hanya berlaku untuk laki-laki dan tidak untuk perempuan dan juga menyebutkan bahwa perempuan hanya dapat mengenyam pendidikan domestik. Kata feminisme sendiri pertama kali di kreasikan oleh aktivis sosialis utopis yaitu Charles Fourier pada tahun 1837. Kemudian pergerakan yang berpusat di Eropa ini pindah ke Amerika Serikat dan berkembang pesat sejak adanya publikasi buku yang berjudul the subjection of women ( Tahun 1869) karya John Stuart Mill, dan perjuangan ini menandai kelahiran gerakan feminisme pada gelombang pertama.4 Seiring dengan perkembangan zaman, banyak gerakan-gerakan yang berjuang untuk kesetaraan gender. Namun, bahkan di abad ke-21, masih banyak gap pada kesetaraan gender di dunia Internasional. Contohnya pada tahun 2012, pada Swat Halley di Pakistan, yang lokasi tersebut dikuasai oleh Taliban, melarang anak-anak perempuan untuk pergi sekolah. Malala Yousafzai merupakan tokoh ya (Baker & GJ, 1992) (Husain, 2013) (Monash University Press Editorial, 2005)ng memperjuangkan hak anak-anak perempuan saat itu dengan menulis perjuangannya di blog BBC yang menuai ancaman yang berujung pada percobaan pembunuhan Malala oleh Taliban pada 9 Oktober 20125. Keterkaitan dengan IndonesiaDi Indonesia, masyarakat sudah dikenalkan dengan emansipasi wanita yang dipelopori oleh R.A Kartini Djojo Adhiningrat atau dikenal dengan panggilan “Ibu Kita Kartini”. Pada sejarahnya, pemikiran tentang adanya kesetaraan gender oleh Ibu Kartini muncul saat beliau belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Dari buku-buku dan majalah Eropa, Kartini melihat kemajuan berpikir perempuan di sana dan saat itu timbul keinginannya untuk memperjuangkan hak perempuan karena beliau melihat perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah6. Hal yang sangat beliau perjuangkan adalah perempuan pribumi harus mempunyai kebebasan dalam menuntut ilmu dan belajar. Karena pada zaman itu perempuan-perempuan Indonesia berada pada status sosial yang  lebih rendah dari laki-laki. Pada saat itu hak pendidikan pada perempuan hannyalah pendidikan dasar sampai umur 12 tahun, itu pun hanya berlaku pada perempuan keturunan bangsawan, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tidak dikenal dan harus bersedia dimadu. Pada tahun 1922, buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijin Pane merupakan seorang sastrawan yang menerjemahkan surat-surat Ibu Kartini. Star Wars pada dasarnya sudah merilis empat film trilogi saat ini. Film pertama dari Star Wars memperlihatkan seorang karakter perempuan yang luar biasa, namun pada akhirnya karakter tersebut menjadi budak yang menggunakan bikini, dan karakter tersebut tidak pernah berbicara pada perempuan yang lain. Pada film lanjutannya yang berjudul “The Force Awakens”, karakter-karakter perempuan pada film itu dibuat berbeda. Pada film tersebut perempuan bisa dengan bebasnya berbicara dengan perempuan lain tentang sesuatu selain tentang laki-laki. Dalam film tersebut juga diperkenalkan karakter baru yang bernama Rey, Maz Kanata dan Kapten Phasma dan Tokoh perempuan bernama Leia mempimpin kembali kaum protagonis. Film Star Wars yag berjudul “The Force Awakens” dipercaya sebagai film Star Wars pertama yang menyajikan konten feminisme. Pada film selanjutnya yang berjudul “Rogue One”, pemimpin perempuan yang baik bernama Jyn Erso, dan lagi-lagi tidak ada karakter perempuan lain yang mempimpin dengan baik pada film itu. Film selanjutnya adalah “The Last Jedi” yang dipercaya bahwa film tersebut membawa konten feminisme lebih jauh. Dalam film Star Wars; The Last Jedi, banyak sekali komentar-komentar yang mengkritik film tersebut terkait dengan feminisme. Dalam situs the guardian, Anna Smith berpendapat “There are complex dynamics at work here, and gender seems significant in this case: the different sexes have varying approaches to military strategy, and it’s thought-provoking stuff7” yang secara langsung berpendapat bahwa suatu gender yang berbeda memiliki pendekatan yang berbeda terhadap strategi militer. Komentar lain di tulis oleh seorang aktor asal inggris bernama Rosie Fletcher pada situs digitalspy.com mengatakan bahwa “The Last Jedi takes things much further. It’s the first time we can comfortably say that a Star Wars movie is actively feminist.8” Dari tulisannya tersebut dia mengatakan bahwa film Star Wars; The Last Jedi merupakan sebuah film feminisme yang aktif. Pendapat Penulis PribadiSetelah saya lihat sendiri filmnya, saya langsung bisa menyadari bahwa film tersebut merupakan film aktif feminisme, karena dalam film tersebut karakter perempuan seolah-olah menjadi pahlawan dan tokoh laki-laki memperlihatkan banyak sisi negatif seperti; menyerah, ceroboh, merasa bersalah, tidak bertanggung jawab dan lain-lain. Contohnya karakter yang bernama Rey. Dia merupakan seorang perempuan yang gigih dan akhirnya mampu mengalahkan tokoh antagonis dari film tersebut. Juga ada Leia yang merupakan pemimpin dari kaum pemberontak yang bisa memimpin pasukannya untuk melawan tokoh antagonis dan berhasil mengurangi kerusakan dan kehilangan. Disisi lain, tokoh bermana Poe, dia adalah seorang pilot laki-laki yang arogan dan ceroboh dan Finn merupakan seorang tokoh laki-laki yang berencana kabur dari kapan induk karena dia yakin kapal tersebut akan hancur bahkan tokoh bernama Luke, seorang tokoh utama dari film-film Star Wars episode sebelumnya, memperlihatkan rasa menyerah dan penuh dengan rasa bersalah sehingga tidak mau membantu kaum pemberontak untuk mengalahkan tokoh-tokoh antagonis pada film tersebut. Secara garis besar, film Star Wars: The Last Jedi, memperlihatkan semua tokoh-tokoh perempuan dengan sisi positif dan semua tokoh laki-laki dengan sisi negatif.  Jika dilihat dari definisinya, saya sangat setuju dengan paham feminisme yang mengutamakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Hal kontroversial dari gerakan ini adalah para penganut feminisme seolah ingin bersaing dengan pria. Mereka menganggap konsep gender yang membedakan laki-laki dan perempuan itu merugikan dan menuntut kesetaraan. Padahal, laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda dari struktur otak, cara berpikir, cara merespons terhadap sesuatu. Hal ini dibuktikan dengan teori MI ( Multiple Intelligences) dari Howard Gardner, perbedaan yang ada hannyalah pada spesifikasi dan keahlian pada satu jenis kecerdasan, dan Itu lebih diakibatkan oleh faktor otak daripada faktor lingkungan, seperti pembelajaran. Dalam kecerdasan linguistik-verbal, misalnya, perempuan lebih unggul. Sementara dalam kecerdasan visuo-spasial lelaki yang lebih unggul. Laki-laki dan perempuan punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kedua gender ini bukannya harus bersaing, tapi harus bekerja sama. Perbedaan gender harusnya bisa menjadi salah satu alasan di mana perempuan dan laki-laki harus bisa bekerja sama dan melengkapi satu sama lain. Di Indonesia sendiri, banyak kontroversi tentang feminisme karena sebagian dari masyarakat percaya bahwa perempuan dan laki-laki harus berada pada posisi politik dan hak yang sama dan malah menentang aturan-aturan yang sudah berlaku (aturan agama atau aturan negara). Contohnya dalam agama Islam. Untuk hal tertentu Lelaki harus memimpin tetapi untuk hal tertentu pula Perempuanlah yang dilebihkan. Kesetaraan menjadi Kemitraan. Menurut versi Islam, perempuan wajib dimuliakan, meskipun lelaki yang menjadi Imam. Dengan adanya keberagaman seperti itu (bahkan konsepsi dan teorisasi Feminisme pun tidak tunggal). Memang dalam ajaran Islam, banyak peraturan-peraturan yang banyak orang percaya bahwa aturan tersebut “tidak adil” bagi kesetaraan gender seperti; pembagian harta warisan, qurban dan lain-lain. Namun, di sisi lain Islam sangat mengistimewakan perempuan.  Dengan kondisi Indonesia yang mempunyai 260 juta jiwa dan mayoritas beragama Islam, Indonesia menjadi negara yang tidak akan terpengaruh oleh paham feminisme barat jika rakyat Indonesia memahami konsep dan teori aturan Islam yang terkait dengan kesetaraan gender. Akibat dari film Star Wars yang baru saja dirilis di sinema Indonesia beberapa pekan lalu, rakyat Indonesia di khawatirkan terpengaruhi oleh paham feminisme barat yang sudah jelas menyalahi aturan-aturan keberagamaan yang sudah ada.  Feminisme, Islam, dan Feminis MuslimDilihat dari poin-poin feminisme yang mengatasnamakan keadilan antara laki-laki dan perempuan dan juga dengan kondisi Indonesia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam, maka saya hadirkan analisis dari makalah yang berjudul “Feminisme dan Gerakan Perempuan Tinjauan Fiqh Mazhab Negara Indonesia” yang ditulis oleh Sarah Raden, S.Ag, MH yang merupakan dosen jurusan Syariah, STAIN Datokrama Palu, Sulawesi Tengah. Landasan Fiqh, menolak feminisme9. Feminisme apa pun bentuknya harus ditolak, mengingat argumen-argumen berikut ini: Pertama, feminisme sebenarnya terlahir dalam konteks sosio-historis khas di negara-negara Barat terutama pada abad XIX-XX ketika wanita tertindas oleh sistem masyarakat liberal kapitalistik yang cenderung eksploitatif. Maka dari itu, mentransfer ide ini ke tengah umat islam, yang memiliki sejarah dan nilai unik, jelas merupakan generalisasi sosiologis yang terlalu dipaksakan dan tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Kedua, feminisme bersifat sekularistik, yakni terlahir dalam aqidah pemisahan agama dari kehidupan. Hal ini nampak jelas ketika feminisme memberikan solusi-solusi terhadap problem yang ada, yang tidak bersandar pada satu pun dalil syar’i. Jadi para feminis telah memposisikan menjadi Musyar’i (Sang Pembuat Hukum), Bukan Allah Azza wa Jalla. Ketiga, para feminis muslim menggunakan metode historis-sosiologis khas kaum modernis untuk memahami ­nash-nash syara’. Motode ini sebenarnya berasal dari sistem hukum barat yang memandang kondisi masyarakat sebagai sumber hukum. Faktanya masyarakat dianggap sebagai dalil Syar’i yang menjadi landasan penetapan hukum. Jelas disini bahwa metode “Ushul fiqih” mereka adalah “Ushul Fiqih” yudisprudensi hukum barat. Bukan “Ushul Fiqih” yang diambil dari pada ushuliyun kaum muslimin. Tentu saja ini keliru. Sumber hukum umat Islam adalah wahyu Allah yang tertulis dalam Alquran dan As Sunnah, bukan realitas masyarakat yang ada. Keempat, pada feminis muslim gagal memahami kehendak Syari’at  Islam dalam masalah hak dan kewajiban bagi lelaki dan perempuan, otomatis menyebabkan kesetarakan hak-hak antara laki-laki dan perempuan. Ini keliru. Karena, cara berpikir demikian adalah cara berpikir logika yang tidak berlandaskan pada dalil Syar’i mana pun. Selain itu, fakta Syari’at Islam menunjukkan bahwa kedua ide itu (yaitu kesetaraan kedudukan dengan kesetaraan hak) tidaklah ber-relasi sebab-alkibat yang bersifat pasti (absolut). Seperti yang dipahami feminis muslim, yakni kesetaraan dan kedudukan lelaki dan perempuan pasti menghasilkan kesamaan hak dan kewajiban di antara keduanya. KesimpulanGerakan dan ideologi feminisme tercipta karena adanya tidak setarakan antara laki-laki dan perempuan di dunia. Gerakan dan ideologi feminisme merupakan sesuatu hal yang positif, namun tidak bisa dengan mudahnya diterima dan di implementasikan kepada semua negara di dunia. Indonesia contohnya, negara yang berideologi pancasila yang menjunjung tinggi nilai Ketuhanan tidak bisa menerima semua poin dan pemikiran dari gerakan dan ideologi feminisme karena adanya aturan keberagamaan dan undang-undang yang sudah ada. Film Star Wars; The Last Jedi dengan poin-poin feminisme barat merupakan sebuah ancaman bagi masyarakat Indonesia yang kurang memahami aturan pada agama dan negaranya. Jika rakyat Indonesia sudah terpengaruh budaya dan pemikiran feminisme barat dan akhirnya membuat suatu gerakan yang nyata, maka stabilitas politik dan agama akan tidak stabil. Banyak aturan-aturan yang dianggap bertentangan dengan paham feminisme.