BAB kemudahan mencari informasi, berkomunikasi, dan serta menyimpan data

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

1.1.  Latar belakang

          Perkembangan
teknologi memberikan efek yang sangat beguna bagi kita, mulai dai kemudahan
mencari informasi, berkomunikasi, dan serta menyimpan data dalam jumbah banyak
tanpa perluh melihat data dalam fisik. Berkat perkembangan teknologi hampir
semua hal bisa kita lakukan secara virtual.

         Semua
data yang tersimpan baik itu milik pribadi atau milik perusahaan harus
diamankan agar tidak disalah gunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dikarenakan oleh beberapa hal tersebut maka diperluhkannya kriptografi guna
mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan,
keabsahan data, integritas data dan autentifikasi data. Untuk simplenya
kriptografi menggubah data yang berupa pesan jelas (Plainteks) menjadi pesan
yang telah di sandikan (Chiperteks). Proses perubahan dari Plainteks menjadi
Chiperteks di sebut sebagai proses Enkripsi sementara proses perubahan dari
Chiperteks menuju Plainteks disebut sebagai Dekripsi.

         Kriptografi
dengan algoritma yang baik akan memerlukan waktu yang lama untuk memecahkan
data yang telah tersandikan serta memiliki time processing enkripsi yang lebih
cepat dan hanya menggunakan sedikit memory.

1.2.  Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang di atas,
rumusan masalah yang di angkat adalah “Diantara alogaritma DES dan AES, manakah
yang memiliki nilai korelasi yang lebih baik?”

         

1.3.  Tujuan Penelitian

          Disini penulis berusaha membuktikan
apakah prinsip kriptografi AES (Advanced Encryption Standard) lebih baik dari
DES (Data Encryption Standard) atau sebaliknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN
PUSTAKA

Bab ini berisi tinjauan pustaka dan hasil
penelitian yang pernah dilakukan, yang mana isi pustaka berhubungan dengan
penelitian ini. Berikut ini sebagai pustaka yang diacu adalah penelitian
terdahulu yang telah dilakukan terkait dengan kriptografi AES dan kriptografi
DES.

2.1.  Penelitian terdahulu

            Pada tahun 1950 algoritma yang lebih
condong ke arah aritmatika terbukti dengan dipakainya kata algoritma  tersebut dalam “Algoritma Euclidean” yaitu
algoritma yang mencari pembagi bersama terbesar (Great Common Divisor) diantara
kedua bilangan. Dalam algoritma ini sangat membantu dalam mencari nilai enskirpsi
pada algoritma RSA. Kemudian dari hal tersebut, algoritma dikembangkan ke arah
prosedur komputasi sehingga komputer dapat bekerja seperti yang diharapkan
seperti saat ini.

Algoritma DES
dikembangkan di IBM dibawah kepemimpinan W.L. Tuchman pada tahun 1972.  Algoritma ini didasarkan pada algoritma
Lucifer yang dibuat oleh Horst Feistel. 

 Algoritma ini telah disetujui oleh National
Bureau of Standard (NBS) setelah penilaian kekuatannya oleh National Security
Agency (NSA) Amerika Serikat. Tak lama kemudian National Institute of Standards
and Technology  (NIST), sebagai agensi
Departemen Perdagangan AS mengusulkan kepada Pemerintah Federal AS untuk sebuah
standard kriptografi kriptografi yang baru. Untuk menghindari kontoversi
mengenai standard yang baru tersebut, sebagaimana pada pembuatan DES (NSA
sering dicurigai mempunyai “pintu belakang” untuk mengungkap cipherteks yang
dihasilkan oleh DES tanpa mengetahui kunci), maka NIST mengadakan sayembara
terbuka untuk membuat standard algoritma kriptografi yang baru sebagai
pengganti DES. Standard tersebut kelak diberi nama Advanced Encryption Standard
(AES). Persyaratan yang diajukan oleh NIST tentang algoritma yang baru tersebut
adalah:

·     
Algoritma yang
ditawarkan termasuk ke dalam kelompok algoritma kriptografi simetri berbasis
cipher blok.

·     
Seluruh rancangan
algoritma harus publik (tidak dirahasiakan)

·     
Panjang kunci
fleksibel: 128, 192, dan 256 bit.

·     
Ukuran blok yang
dienkripsi adalah 128 bit.

·     
Algoritma dapat
diimplementasikan baik sebagai software maupun hardware.

 

2.2.  Teori Kriptografi DES

            DES termasuk ke dalam sistem
kriptografi simetri dan tergolong jenis cipher blok dan DES beroperasi pada
ukuran blok 64 bit. DES mengenkripsikan 64 bit plainteks menjadi 64 bit
cipherteks dengan menggunakan 56 bit kunci internal (internal key) atau
upa-kunci (subkey). Kunci internal dibangkitkan dari kunci eksternal (external
key) yang panjangnya 64 bit

Dari gambar di
atas skema global dari algoritma DES adalah sebagai berikut :

·     
Blok plainteks
dipermutasi dengan matriks permutasi awal (initial permutation atau IP).

·     
Hasil permutasi
awal kemudian di-enciphering- sebanyak 16 kali (16 putaran). Setiap putaran
menggunakan kunci internal yang berbeda.

·     
Hasil enciphering
kemudian dipermutasi dengan matriks permutasi balikan (invers initial
permutation atau IP-1 ) menjadi blok cipherteks.

 

2.3.  Teori Kriptografi AES

          Advanced Encryption Standard (AES) mempunyai kunci 128,
192, 256 bit sehingga berbeda dengan panjang dari putaran Rijndael.

 

AES 128

AES 192

AES 256

Key size

4 word (16 byte)

6 word (24 byte)

8 word (32 byte)

Plaintext block size

4 word (16 byte)

4 word (16 byte)

4 word (16 byte)

Number of round

10

12

14

Round key size

4 word (16 byte)

4 word (16 byte)

4 word (16 byte)

Expanded key size

44 word (176 byte)

52 word (208 byte)

60 word (240 byte)

 

Dari tabel diatas
Advanced Encryption Standard (AES) 128 bit menggunakan panjang kunci Nk = 4
word (kata) yang setiap katanya terdiri dari 32 bit sehingga total kunci 128
bit, ukuran blok teks-asli 128 bit dan memiliki 10 putaran. Sedangkan putaran
untuk kunci terdiri dari Ki = 4 kata dan total putaran kunci 128 bit dan kunci
yang diperluas mempunyai ukuran 44 kata dan 176 byte. Dibawah adalah gambar
proses enkripsi algoritma Advanced Encryption Standard (AES).

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

Pengumpulan
Data

Dalam penelitian penulis berusaha membandingkan kolerasi antara
alogaritma kriptografi DES dan AES. Oleh karena itu metode penelitian sangat
diperluhkan agar penelitian tidak menyimpang dari tujuan yang telah di lakukan
sebelumnya. Adapun tahap tahap yang di lalui sebagai berikut

Penyusunan
Laporan

 

 

Analisis
Kebutuhan

 

 

Perbandingan
Nilai Korelasi

 

 

Pengujian

 

 

Penyusunan
Laporan

 

 

1.    
Pengumpulan
Data: Untuk menghasilkan data yang valid penulis menggumpulkan data melalui
e-book dan jurnal ilmiah yang membahas mengenai alogaritma kriptografi DES dan
AES dari penelitian sebelumnya

2.    
Analisi
Kebutuhan : penulis melakukan analisis mengenai kebutuhan apa saja yang berguna
untuk penelitian. Segala kebutuhan dan informasi harus disiapkan secara
mendetail, agar penelitian tidak terhambat oleh kurangnya data maupun metode
yang tidak tepat.

3.    
Perbandingan Nilai Korelasi : didapatkan nilai korelasi mana yang lebih
unggul antara algoritma satu dengan yang lain. Dalam kasus ini algoritma yang
digunakan adalah AES dan DES. Yang menjadi acuan adalah nilai korelasi yang
semakin mendekat ke 0, itu berarti bahwa semakin bagus pula hasil enkripsnya.

4.    
Pengujian
: Penulis melakukan penguji algoritma satu dengan yang lain data akan diuji dan
dijadikan perbandingan, dalam kasus ini algoritma yang akan dibandingkan adalah
AES dan DES. Data yang sama diuji dengan algoritma yang berbeda, kemudian hasil
dari enkripsi akan dihitung korelasinya, setelah didapat korelasinya makan
penulis bisa menentukan mana yang lebih 
baik.

5.    
Penyusunan Laporan: Berdasarkan hasil analisis akan didokumentasikan dan
menghasilkan kesimpulan, algoritma manakah yang lebih efisien untuk digunakan
dalam pengamanan data ataupun file.

 

BAB IV

HASIL dan
PEMBAHASAN

4.1.  Hasil

Berdasarkan
penelitian didapatkan hasil percobaan pertaman dan kedua sebagai berikut:

percobaan pertaman

Korelasi DES = 0,343353 dan Korelasi AES = 0,06269

 

Percobaan kedua

Korelasi DES = 0,363553 dan Korelasi AES = 0,168285

Sementarakan percobaan ketiga dan keempat
diperoleh data sebagai berikut:

Percobaan ketiga

Korelasi DES = 0,009341067 dan Korelasi AES = 0,17027993

Percobaan Keempat

Korelasi DES = 0,226099 dan Korelasi AES = 0,080743

 

4.2.  PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh penulis,
kita bisa melihat bahwa dari empat percobaan AES memenangkan tiga percobaan yakni
percobaan pertama, kedua dan keempat dan DES hanya memenang pada percobaan
ketiga.

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan pada hasil penelitian yang di
lakukan oleh penulis dengan acuan refrensi dan sumber yang didapat. Penulis
berpendapat bahwa alogaritma kriptografi AES lebih baik daripada alogaritma
kriptografi DES, hal ini dikarenakan AES berjalan dengan 128-bit sementara DES
berjalan dengan 56-bit. Penulis semakin yakin dengan performa AES juga di
sokong oleh hasil penelitian yang dilakukan penulis dimana AES lebih unggul
dalam empat percobaan yang telah dilakukan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

www.nayuki.io/AES-cipher-internals-in-excel/

www.nayuki.io/DES-chiper-internal-in-excel/

www.scrib.com/Data-Encryption-Standard/

www.researchgate.net/Analisis-Performansi-Alogaritma-AES/

IMPLEMENTASI ALOGARITMA AES (E-BOOK)

DATA ENCRYPTION STANDARD (E-BOOK)/ Ir. Rinaldi Munir, M.T.